Selasa, 25 April 2017

Tuhan,, Aku Nakal.

Tuhan,, Aku nakal.

Tuhan,
Aku senang sekali bertemu dengannya, aku senang memandangnya, sejak awal bertatapan dengannya, aku suka Tuhan, aku senang, bagiku ia baik, mungkin aku jarang sekali menemukan orang baik sepertinya, atau aku yang selalu tidak bersyukur atas kebaikanMu, maafkan aku Tuhan.

Tuhan,,
Hari pertama bertemu dengan nya dia mnghujaniku dengan pertolongannya, membetulkan kamar mandiku, mengganti daun pintu kamarku, yah karena aku kamar kos ini miliknya. jelas aku yang terlalu nakal memberanikan diri untuk tersenyum dan terus memandangnya.

malam pertama kami habiskan untuk bercerita dan tertawa, dan malampun berakhir pada kamar kami masing - masing.

Tuhan,

Keesokan harinya ia bercerita bahwa minggu Akhir pekan ia akan melamar seorang gadis pujaannya.
Mengapa aku harus terdiam?, mengapa aku begitu sulit bernafas?, mengapa aku ingin menitikkan air mata namun tak terjadi. Aku hanya dapat memandangnya dengan sedikit menyesal melewatkannnya begitu saja.
Mengapa aku harus menyesal?, mengapa aku yang bersalah?, bukankah wanita semestinya merasakan perjuangan pria dewasa untuk hidup bersamanya. yah akupun lelah dan melupakan segalanya.

Tuhan,,
Tuhan aku terus bersamanya tiap malam mnghabiskan waktu bersama mnikmati sepuntung rokok berharap waktu tak akan pernah bertemu hari esok.
Tuhan, aku mulai berharap ia membatalkan niat baiknya kepada wanita itu.
Aku Nakal Tuhan.
Tatapan demi tatapan, cerita demi cerita, tawa demi tawa, tak akan habis bila bersamamnya, bahkan pertengkaran kecil dan di akhiri dengan senyuman manis aku menikmatinya.

Kurang 2 hari aku putuskan untuk tidak mnghubunginya.
sakit Tuhan,

Hari itu hadir, hari yang sering ia kisahkan dan diselipkan kalimat ada besit penyesalan telah membuat janji besar terhadap orang banyak. aku melaluinya dengan mebersihkan rumah semampuku, aku pulang sesaat, menjauh dari singgasana rumahnya yang penuh kenangan. aku terus bermain air membersihkan semua baju yang kurasa berjasa menemani hariku dari pada dia, aku terus mengusap lantai berharap bayangannya terbawa kain usang yang bernoda, aku sapu senyumannya berharap cepat terbawa angin dan mngudara.
aku tak sanggup Tuhan melewatinya, melewatinya begitu saja dihidupku, walau aku tau ia tak akan berhenti walau sedetik di hidupku. aku menangisi seolah ia berjasa diseumur hidupku. aku tak tahu rasa apa ini, sedih tak berakhir bila jauh darinya.

Tuhan,,
Kesokkan harinya, setelah hari baru tiba dihidupnya, aku selipkan kata "Rindu" dan aku kirim ke ponselnya.
aku mulai merasa tak berharga dihadapnya.
detik detik berlalu dan ponselku berdering pada malam ini, "ia menghubungiku".
ada rasa yang begitu besar, untuk mendengarkan semua cerita tentangnya, namun untuk apa?
yah, Semesta senang bercanda.
aku mncoba diam, dan hanya dia yang menanyakan kesibukanku selama aku jauh darinya.
hatiku sangat senang Tuhan, mendengar suaranya, mendengar ceritanya, merasakan senang akan kata buruk darinya adalah dusta yang harusnya aku hilangkan. aku sennag Tuhan, Aku Bahagia bersamamya.
namun ia tetap melanjutkan hidupnya.

aku nakal Tuhan,
Tuhan, Aku nakal.
hatiku kecilku takut memintanya.
naif terbodoh diriku ini Tuhan.

Aku hanya Merindukannya.
Selamanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

biarlah

biarlah apa yang kulakukan ini sebagai pengobat rasa sedihku. biarlah apa yang kulakukan ini sebagai pelajaranku untuk mengenalmu dihari na...